Selasa, 15 April 2014

Tana Toraja - Negeri Orang Mati Yang Hidup

Kekayaan budaya dibalut pesona alam menjadikan Tana Toraja sebagai primadona pariwisata Sulawesi Selatan.

Berada di datarang tinggi yang sejuk, kaya pemandangan indah, bukit hijau, lembah nan subur, tebing granit menjulang terjal, sawah-sawah berndak, desa tradisional, arsitektur serta budaya tiada duanya dan kenikmatan kopi yang terkenal di seluruh dunia menjadi magnet bagi wisatawan untuk singgah di kawasan yang dijuluki wisatawan sebagai 'Negeri Orang Mati yang Hidup' (The Land of The Dead) ini.

Berpetualan di kawasan konservasi peradaban budaya yang dihuni suku Toraja dan bergaya hidup Austronesia merupakan pengalaman yang tidak terlupakan. Terutama bagi wisatawan yang menyukai petualangan trekking (jalan kaki) dapat menikmati keindahan alam, menyusuri area persawahan, rumah tradisional, gunung dan bukit yang menjulang ditambah keramahtamahan penduduk setempat.

Tana Toraja terletak sekitar 329 kilometer arah utara Makassar melalui Kabupaten Enrekang, Kabupaten Sidrap, Kota Pare-Pare, Kabupaten Barru, Kabupaten Pangkep dan Kabupaten Maros. Perjalanan menuju Toraja dari Makassar dapat ditempuh melalui dua jalur yaitu darat dan udara. Namun keberadaan bandara di Toraja belum terlalu dimanfaatkan maskapai penerbangan, sehingga jalan darat dengan kendaraan bermotor menjadi pilihan transportasi bagi wisatawan.

Sudah lama saya ingin mengunjungi Tana Toraja, karena ketertarikan saya terhadap tradisi, budaya dan keindahan alamnya yang masih terjaga di zaman modern. Tiba di Bandara Hasanuddin Makassar, saya langsung naik bus Damri dari bandara menuju perusahaan jasa angkutan bus yang berada di Kota Makassar.

Dengan bantuan teman yang berada di Makassar, saya mendapat tiket bus seharga Rp 135 ribu per orang dari Makassar menuju Toraja.

Bus malam dari ibu kota Makassar menuju Toraja sangatlah nyaman, karena dirancang cukup leluasa bagi penumpang, sehingga perjalanan jauh dengan waktu sekitar tujuh sampai delapan jam tidak terasa lama.

Menginat banyaknya lokasi objek wisata di Toraja yang sulit dijangkau oleh transportasi umum karena sebagian masuk ke desa-desa dan perbukitan, berjalan kaki adalah sebuah pilihan. Selain tidak memerlukan biaya, perjalanan tidak akan melelahkan karena udara sejuk dan indahnya pemandangan sekitar.

Tapi apabila tidak ingin berjalan kaki, ada alternatif untuk menyewa ojek ataupun mobil berplat hitam yang bisa mengantarkan wisatawan berkeliling Toraja. Apabila tidak ingin repot backpacking (wisata hemat), wisatawan dapat menyewa jasa biro perjalanan wisata yang ada di pusat kota Toraja, tentunya dengan merogoh kocek yang tidak sedikit.

Bus yang saya tumpangi berhenti di kota kecil di Rantepao yang tidak lain merupakan ibukota Toraja Utara. Sebagai pintu gerbang memasuki Tana Toraja. Rantepao menyediakan berbagai fasilitas yang sangat lengkap untuk ukuran kota kecil.

Usai bernegosiasi dengan tukang ojek yang langsung menawarkan jasanya begitu penumpang bus turun, akhirnya kami sepakat dengan harga Rp 125 ribu untuk berkeliling Toraja selama setengah hari. Objek pertama yang kami tuju adalah desa wisata terpopuler di Tana Toraja, Kampung Kete Kesu yang hanya berjarak kurang lebih empat kilometer dari Rantepao.

Kete Kesu merupakan salah satu perkampungan Megalitikum paling populer di Tana Toraja yang terletak  di Tikunna Malenong, Sanggalangi. Kete Kesu dikemas menjadi satu kawasan wisata lengkap yang menggambarkan siklus kehidupan tradisional budaya masyarakat Toraja atau menjadi taman mininya Tana Toraja. Terdapat Tongkonan (rumah adat), alang sura (lumbung padi), rante (tempat upacara), liang (kuburan) dan museum.

Kekayaan kebudayaan warisan nenek moyang ini wajib dikunjungi jika berlibur di Tana Toraja. Ibarat kata, jika belum mengunjungi Kete Kesu, maka belum pernah berkunjung ke Tana Toraja.

Bangunan lain yang harus juga dikunjungi, yaitu sebuah museum yang menyimpan beraneka artefak peninggalan suku Toraja yang telah berusia ratusan tahun dan liang yang berada di lubang-lubang gua perbukitan kapur nan tinggi sebagai benuk penghormatan kepada leluhur.

Di dalam liang itulah terdapat erong (peti mati) dengan tau-tau (patung leluhur). Namun jangan heran, meskipun area pemakaman terbuka alias hanya dikubur dalam peti dan diletakkan di dalam maupun mulut hingga di atas goa, tapi tidak tercium bau busuk. Menurut cerita tukang ojek sekaligus pemandu wisata yang menemani saya, orang mati tersebut diberikan formalin paling tidak dua liter sehingga mayatnya tidak berbau.

Di sepanjang perjalanan menaiki bukit tersebut dapat dijumpai tulang belulang manusia yang berserakan menumpuk di sana-sini serta berbagai sesajen berupa rokok ataupun uang, tergantung kesukaan orang yang meninggal tersebut. Nah, di sinilah sebuah pemakaman yang tidak akan ditemui di manapun justru dijadikan objek wisata unik.

Bergeser tujuh kilometer ke selatan Rantepao, terdapat Londa. Londa merupakan sebuah kompleks pemakaman kuno yang terletak di dalam goa atau sama dengan kuburan yang berada di Kete Kesu, di tebing-tebing bukit yang tinggi. Pemakaman Londa ini konon usianya telah mencapai lima ratus tahun, maka tidak heran area ini juga banyak didatangi wisatawan dengan sedikit trekking sambil berolahraga. Para pemandu wisata di Londa cukup banyak. Selain mengantarkan berkeliling goa, mereka juga menawarkan lampu petromaks yang digunakan menerangi isi goa yang memang tidak ada penerangan tersebut.

Area pemakaman lainnya yang tidak kalah menariknya yaitu Lemo yang berada di bukit batu terletak di sebelah utara kota Makale yang tidak lain adalah ibukota Tana Toraja, masuk ke arah timur dari jalan raya yang menghubungkan kota Makale dan kota Rantepao.

Di bukit batu ini terdapat sekitar puluhan lubang kuburan, tiap-tiap lubang merupakan kuburan satu keluarga. Dari luar yang terlihat hanya pintu lubang yang ditutup dengan papan kayu. Untuk membuat lubang ini dibutuhkan biaya yang cukup besar mulai Rp 30 juta, karena lubang dibuat dengan cara memahat bukit batu secara manual dan memakan waktu hingga enam bulan.

Lemo sering disebut sebagai rumah arwah yang  merupakan  perpaduan antara kematian, seni dan ritual. Di dinding tebing berderet banyak tau-tau yang menunjukkan kuburan ini merupakan kuburan orang-orang kaya. Sebab untuk membuat tau-tau harus dipenuhi berbagai syarat antara lain menyembelih kerbau sebanyak 24 ekor.

Tana Toraja tidak hanya menyimpan keindahan kebudayaan masa lampau, tapi juga memiliki keindahan panorama alam dan beberapa objek wisata alam yang dapat dikunjungi. Salah satunya sebuah pemandian alami Tilanga, berupa  sebuah cerukan besar dengan panjang kira-kira 20 meter dan lebar 5 meter di lereng perbukitan dan pegunungan. Tilanga terletak di daerah jalur utama Makale dan Rantepao, tepatnya di kelurahan Sarira Toraja.

Bebatuan cadas kapur secara alami membentuk Tilanga menjadi kolam raksasa yang sangat indah. Di sekeliling kolam ditumbuhi pohon bambu, pohon jati putih dan beberapa jenis tanaman rindang. Kesan alami hijau yang sejuk langsung dapat dirasakan para pengunjung begitu sampai di pemandian Tilanga. Daya tarik lain dari Tilanga juga merupakan habitat hidup moa raksasa atau belut raksasa yang telinganya berwarna hitam putih.
Setelah istirahat, perjalanan saya lanjutkan menuju Sangalla Kambira yang terdapat kuburan bayi di pohon (baby grave). Hanya bayi yang meninggal sebelum giginya tumbuh dikuburkan di dalam sebuah lubang di pohon Tarra. Pohon tersebut dipilih sebagai kuburan bayi yang masih suci, karena memiliki banyak getah yang dianggap sebagai pengganti air susu ibu dan seakan bayi tersebut dikembalikan ke rahim ibunya.

Masih banyak lagi objek wisata yang dapat dikunjungi di Tana Toraja ini antara lain Batu Tumonga, Lokamata, Makula, Bori, Karrasik, Pallawa dan sebagainya. Semua objek wisata tersebut hanya dikenakan biaya masuk Rp 10 ribu tanpa perlu membayar biaya parkir. Wisatawan juga akan mudah menemukan toko oleh-oleh di sekitar tempat wisata tersebut dengan harga cukup terjangkau seperti patung tau-tau, kain tradisional Toraja dan lain-lain.

Catatan selama berlibur ke Tana Toraja sebaiknya ambil waktu di musim kemarau, karena sebagaian besar tempat wisatanya berada di luar (out door). Apabila ingin makanan halal, pilihlan warung makan yang bertuliskan halal atau warung muslim, sebab sebagian besar makanan yang dijajakan merupakan olahan daging babi yang menjadi sajian utama masyarakat Toraja.

sumber : Kedaulatan Rakyat 13 April 2014 (Fina Nurfiani)


0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © . DENAH WISATA - Posts · Comments
Theme Template by BTDesigner · Powered by Blogger